Manusia Dalam Perspektif Al-Qur’an
Berbicara tentang manusia
berarti kita berbicara tentang dan pada diri kita sendiri makhluk yang
paling unik di bumi ini. Banyak di antara ciptaan Allah yang telah
disampaikan lewat wahyu yaitu kitab suci. Manusia merupakan makhluk yang
paling istimewa dibandingkan dengan makhluk yang lain. Menurut Ismail
Rajfi manusia adalah makhluk kosmis yang sangat penting, karena
dilengkapi dengan semua pembawaan dan syarat-syarat yang diperlukan
(Jalaluddin, 2003: 12).
Manusia mempunyai kelebihan yang luar biasa.
Kelebihan itu adalah dikaruniainya akal. Dengan dikarunia akal, manusia
dapat mengembangkan bakat dan potensi yang dimilikinya serta mampu
mengatur dan mengelola alam semesta ciptaan Allah adalah sebagai amanah.
Selain itu manusia juga dilengakapi unsur lain yaitu qolbu (hati).
Dengan qolbunya manusia dapat menjadikan dirinya sebagai makhluk
bermoral, merasakan keindahan, kenikmatan beriman dan kehadiran Ilahi
secara spiritual (Jalaluddin, 2003: 14).
Dari pendapat di atas dapat
disimpulkan bahwa manusia adalah makhluk yang paling mulia dibandingkan
dengan makhluk yang lain, dengan memiliki potensi akal, qolbu dan
potensi-potensi lain untuk digunakan sebagai modal mengembangkan
kehidupan.
Hakikat wujud manusia menurut Ahmad Tafsir (2005: 34)
adalah makhluk yang perkembangannya dipengaruhi oleh pembawaan dan
lingkungan. Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa manusia mempunyai
banyak kecenderungan, ini disebabkan oleh banyaknya potensi yang
dimiliki. Dalam hal ini beliau membagi kecenderungan itu dalam dua garis
besar yaitu cenderung menjadi orang baik dan cenderung menjadi orang
jahat (2003: 35).
Pemahaman tentang manusia merupakan bagian dari
kajian filsafat. Tak mengherankan jika banyak sekali kajian atau
pemikiran yang telah dicurahkan untuk membahas tentang manusia .
walaupun demikian, persoalan tentang manusia ajan menjadi misteri yang
tek terselesaikan. Hal ini menurut Husein Aqil al-Munawwar dalam
Jalaluddin (2003: 11) karena keterbatasan pengetahuan para ilmuan untuk
menjangkau segala aspek yang terdapat dalam diri manusia. Lebih lanjut
Jalaluddin (2003: 11) mengatakan bahwa manusia sebagai makhluk Allah
yang istimewa agaknya memang memiliki latar belakang kehidupan yang
penuh rahasia.
Dengan demikian, memang yang menjadi keterbatasan
untuk mengetahui segala aspek yang terdapat pada diri manusia itu adalah
selain keterbatan para ilmuan untuk mengkajinya, juga dilatarbelakangi
oleh faktor keistimewaan manusia itu sendiri.
Walaupun demikian,
sebagai hamba yang lemah, usaha untuk mempelajarinya tidaklah berhenti
begitu saja. Banyak sumber yang mendukung untuk mempelajari manusia. Di
antara sumber yang paling tinggi adalah Kitab Suci Al-Qur’an. Yang mana
di dalamnya banyak terdapat petunjuk-petunjuk tentang penciptaan
manusia. Konsep-konsep tentang manusia banyak dibahas, mulai dari proses
penciptaan sampai kepada fungsinya sebagai makhluk ciptaan Allah. Dalam
makalah ini kami berupaya untuk menguraikan secara sederhana tentang
hakikat manusia dan kedudukannya di alam semesta. Yang sudah tentu hal
ini merupakan kajian untuk mempejari penciptaan manusia.
a. Konsep al-Basyr
Penelitian terhadap kata manusia yang disebut al-Qur’an dengan
menggunakan kata basyar menyebutkan, bahwa yang dimaksud manusia basyar
adalah anak turun Adam, makhluk fisik yang suka makan dan berjalan ke
pasar. Aspek fisik itulah yang membuat pengertian basyar mencakup anak
turun Adam secara keseluruhan (Aisyah Bintu Syati, 1999: 2). Menurut
Abdul Mukti Ro’uf (2008: 3), kata basyar disebutkan sebanyak 36 kali
dalam bentuk tunggal dan hanya sekali dalam bentuk mutsanna.
Jalaluddin (2003: 19) mengatakan bahwa berdasarkan konsep basyr, manusia
tidak jauh berbeda dengan makhluk biologis lainnya. Dengan demikian
kehidupan manusia terikat kepada kaidah prinsip kehidupan biologis
seperti berkembang biak. Sebagaimana halnya dengan makhluk biologis
lain, seperti binatang. Mengenai proses dan fase perkembangan manusia
sebagai makhluk biologis, ditegaskan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an,
yaitu:
1. Prenatal (sebelum lahir), proses penciptaan manusia
berawal dari pembuahan (pembuahan sel dengan sperma) di dalam rahim,
pembentukan fisik (QS. 23: 12-14)
2. Post natal (sesudah lahir) proses perkembangan dari bayi, remaja, dewasa dan usia lanjut (QS. 40: 67)
Secara sederhana, Quraish Shihab (1996: 279) menyatakan bahwa manusia
dinamai basyar karena kulitnya yang tampak jelas dan berbeda dengan
kulit-kulit binatang yang lain. Dengan kata lain, kata basyar senantiasa
mengacu pada manusia dari aspek lahiriahnya, mempunyai bentuk tubuh
yang sama, makan dan minum dari bahan yang sama yang ada di dunia ini.
Dan oleh pertambahan usianya, kondisi fisiknya akan menurun, menjadi
tua, dan akhirnya ajalpun menjemputnya (Abuddin Nata 1997: 31).
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa manusia dalam konsep al-Basyr ini
dapat berubah fisik, yaitu semakin tua fisiknya akan semakin lemah dan
akhirnya meninggal dunia. Dan dalam konsep al-Basyr ini juga dapat
tergambar tentang bagaimana seharusnya peran manusia sebagai makhluk
biologis. Bagaimana dia berupaya untuk memenuhi kebutuhannya secara
benar sesuai tuntunan Penciptanya. Yakni dalam memenuhi kebutuhan
primer, sekunder dan tersier.
b. Konsep Al-Insan
Kata insan bila
dilihat asal kata al-nas, berarti melihat, mengetahui, dan minta izin.
Atas dasar ini, kata tersebut mengandung petunjuk adanya kaitan
substansial antara manusia dengan kemampuan penalarannya. Manusia dapat
mengambil pelajaran dari hal-hal yang dilihatnya, dapat mengetahui apa
yang benar dan apa yang salah, serta dapat meminta izin ketika akan
menggunakan sesuatu yang bukan miliknya. Berdasarkan pengertian ini,
tampak bahwa manusia mampunyai potensi untuk dididik (Abuddin Nata,
1997: 29). Potensi manusia menurut konsep al-Insan diarahkan pada upaya
mendorong manusia untuk berkreasi dan berinovasi (Jalaluddin, 2003: 23).
Jelas sekali bahwa dari kreativitasnya, manusia dapat menghasilkan
sejumlah kegiatan berupa pemikiran (ilmu pengetahuan), kesenian, ataupun
benda-benda ciptaan. Kemudian melalui kemampuan berinovasi, manusia
mampu merekayasa temuan-temuan baru dalam berbagai bidang. Dengan
demikian manusia dapat menjadikan dirinya makhluk yang berbudaya dan
berperadaban.
c. Konsep Al-Nas
Dalam konsep an-naas pada
umumnya dihubungkan dengan fungsi manusia sebagai makhluk sosial
(Jalaluddin, 2003: 24). Tentunya sebagai makhluk sosial manusia harus
mengutamakan keharmonisan bermasyarakat. Manusia harus hidup sosial
artinya tidak boleh sendiri-sendiri. Karena manusia tidak bisa hidup
sendiri. Jika kita kembali ke asal mula terjadinya manusia yang bermula
dari pasangan laki-laki dan wanita (Adam dan Hawa), dan berkembang
menjadi masyarakat dengan kata lain adanya pengakuan terhadap spesis di
dunia ini, menunjukkan bahwa manusia harus hidup bersaudara dan tidak
boleh saling menjatuhkan. Secara sederhana, inilah sebenarnya fungsi
manusia dalam konsep an-naas.
d. Konsep Bani Adam
Adapun kata
bani adam dan zurriyat Adam, yang berarti anak Adam atau keturunan Adam,
digunakan untuk menyatakan manusia bila dilihat dari asal keturunannya
(Quraish Shihab, 1996: 278). Dalam Al-Qur’an istilah bani adam
disebutkan sebanyak 7 kali dalam 7 ayat (Abdul Mukti Ro’uf, 2008: 39).
Menurut Thabathaba’i dalam Samsul Nizar (2001: 52), penggunaan kata
bani Adam menunjuk pada arti manusia secara umum. Dalam hal ini
setidaknya ada tiga aspek yang dikaji, yaitu: Pertama, anjuran untuk
berbudaya sesuai dengan ketentuan Allah, di antaranya adalah dengan
berpakaian guna manutup auratnya. Kedua, mengingatkan pada keturunan
Adam agar jangan terjerumus pada bujuk rayu setan yang mengajak kepada
keingkaran. Ketiga, memanfaatkan semua yang ada di alam semesta dalam
rangka ibadah dan mentauhidkanNya. Kesemuanya itu adalah merupakan
anjuran sekaligus peringatan Allah dalam rangka memuliakan keturunan
Adam dibanding makhluk-Nya yang lain. Lebih lanjut Jalaluddin (2003: 27)
mengatakan konsep Bani Adam dalam bentuk menyeluruh adalah mengacu
kepada penghormatan kepada nilai-nilai kemanusian.
Dengan demikian
dapat disimpulkan bahwa manusia dalam konsep Bani Adam, adalah sebuah
usaha pemersatu (persatuan dan kesatuan) tidak ada perbedaan sesamanya,
yang juga mengacu pada nilai penghormatan menjunjung tinggi nilai-nilai
kemanusian serta mengedepankan HAM. Karena yang membedakan hanyalah
ketaqwaannya kepada Pencipta. Sebagaimana yang diutarakan dalam QS.
Al-Hujarat: 13).
e. Konsep Al-Ins
Kata al-Ins dalam Al-Qur’an
disebutkan sebanyak 18 kali, masing-masing dalam 17 ayat dan 9 surat
(Abdul Mukti Ro’uf, 2008:24). Muhammad Al-Baqi dalam Jalaluddin (2003:
28) memaparkan al-Isn adalah homonim dari al-Jins dan al-Nufur. Lebih
lanjut Quraish Shihab mengatakan bahwa dalam kaitannya dengan jin, maka
manusia adalah makhluk yang kasab mata. Sedangkan jin adalah makhluk
halus yang tidak tampak (Jalaluddin, 2003: 28).
Sisi kemanusiaan
pada manusia yang disebut dalam al-Qur’an dengan kata al-Ins dalam arti
“tidak liar” atau “tidak biadab”, merupakan kesimpulan yang jelas bahwa
manusia yang insia itu merupakan kebalikan dari jin yang menurut dalil
aslinya bersifat metafisik yang identik dengan liar atau bebas (Aisyah
Bintu Syati, 1999: 5).
Dari pendapat di atas dapat dikatakan bahwa
dalam konsep al-ins manusia selalu di posisikan sebagai lawan dari kata
jin yang bebas. bersifat halus dan tidak biadab. Jin adalah makhluk
bukan manusia yang hidup di alam “antah berantah” dan alam yang tak
terinderakan. Sedangkan manusia jelas dan dapat menyesuaikan diri dengan
realitas hidup dan lingkungan yang ada.
f. Konsep Abd. Allah
M. Quraish Shihab dalam Jalaluddin (2003: 29), seluruh makhluk yang
memiliki potensi berperasaan dan berkehendak adalah Abd Allah dalam arti
dimiliki Allah. Selain itu kata Abd juga bermakna ibadah, sebagai
pernyataan kerendahan diri.
Menurut M.Quraish Shihab (Jalaluddin,
2003: 29), Ja’far al-Shadiq memandang ibadah sebagai pengabdian kepada
Allah baru dapat terwujud bila seseorang dapat memenuhi tiga hal, yaitu:
1. Menyadari bahwa yang dimiliki termasuk dirinya adalah milik Allah dan berada di bawah kekuasaan Allah.
2. Menjadikan segala bentuk sikap dan aktivitas selalu mengarah pada
usaha untuk memenuhi perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
3. Dalam mngambil keputusan selalu mengaitkan dengan restu dan izin Allah.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dalam konsep Abd Allah, manusia
merupakan hamba yang seyogyanya merendahkan diri kepada Allah. Yaitu
dengan menta’ati segala aturan-aturan Allah.
g. Konsep Khalifah Allah
Pada hakikatnya eksistensi manusia dalam kehidupan dunia ini adalah
untuk melaksanakan kekhalifahan, yaitu membangun dan mengelola dunia
tempat hidupnya ini., sesuai dengan kehendak Penciptanya. Menurut
Jalaluddin (2003: 31) peran yang dilakonkan oleh manusia menurut
statusnya sebagai khalifah Allah setidak-tidaknya terdiri dari dua
jalur, yaitu jalur horizontal dan jalur vertikal.
Peran dalam jalur
horizontal mengacu kepada bagaimana manusia mengatur hubungan yang baik
dengan sesama manusia dan alam sekitarnya. Sedangkan peran dalam jalur
vertikal menggambarkan bagaimana manusia berperan sebagai mandataris
Allah. Dalam peran ini manusia penting menyadari bahwa kemampuan yang
dimilikinya untuk menguasai alam dan sesama manusia adalah karena
penegasan dari Penciptanya.
2. Manusia Dalam Perspektif Filsafat
Para ahli pikir filsafat mencoba memaknai hakikat manusia. Mereka
mencoba manamai manusia sesuai dengan potensi yang ada pada manusia itu.
Berdasarkan potensi yang ada, para ahli pikir dan ahli filsafat
tersebut memberi nama pada diri manusia di muka bumi ini, para ahli
pikir dan ahli filsafat tersebut memberi nama pada diri manusia dengan
sebutan-sebutan sebagai berikut:
a. Homo Sapiens, artinya makhluk yang mempunyai budi.
b. Animal Rational, artinya binatang yang berpikir.
c. Homo Laquen, artinya makhluk yang pandai menciptakan bahasa dan
menjelmakan pikiran manusia dan perasaan dalam kata-kata yang tersusun.
d. Homo Faber, yaitu makhluk yang terampil, pandai membuat perkakas,
atau disebut juga tool making animal, yaitu binatang yang pandai membuat
alat.
e. Aoon Politicon, yaitu makhluk yang pandai bekerjasama,
bergaul dengan orang lain dan mengorganisasi diri untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya.
f. Homo Economicus, yaitu makhluk yang tunduk pada prinsip-prinsip ekonomi dan bersifat ekonomis.
g. Homo Religius, yaitu makhluk yang beragama.
(Syahminan Zaini, 1980: 5-6)
Dalam perspektif filsafat, konsep manusia menurut Jalaluddin (2003:
32-33) juga mencakup ruang lingkup kosmologi (bagian dari alam
semester), antologi (pengabdi Penciptanya), philosophy of mind
(potensi), epistemology (proses pertumbuhan dan perkembangan potensi)
dan aksiologi (terikat nilai-nilai).
Berbicara mengenai pandangan
filsafat tentang hakikat manusia, ada 4 aliran yang ditawarkan oleh
para ahli filsafat. Adapun keempat aliran tersebut, seperti yang dikutip
Jalaluddin dan Abdullah (1997:107-108) dan Zuhairini (1995:71-74)
adalah sebagai berikut:
a. Aliran Serba Zat.
Aliran ini
menyatakan bahwa yang sungguh-sunguh ada hanyalah zat atau materi. Zat
atau materi itulah hakikat sesuatu. Alam ini adalah zat atau materi, dan
manusia adalah unsur alam. Oleh karena itu, hakikat manusia adalah zat
atau materi.
b. Aliran Serba Ruh.
Aliran ini berpandangan bahwa
hakikat segala sesuatu yang ada di dunia ini ialah ruh, termasuk juga
hakikat manusia. Adapun zat atau materi adalah manifestasi ruh di atas
dunia ini. Dengan demikian, jasad atau badan manusia hanyalah
manifestasi atau penjelmaan ruh.
c. Aliran Dualisme.
Aliran ini
menggabungkan pendapat kedua aliran di atas. Aliran ini berpandangan
bahwa hakikatnya manusia terdiri dari dua substansi, yaitu jasmani dan
rohani. Kedua substansi ini merupakan unsur asal, tidak tergantung satu
sama lain. Jadi, badan tidak berasal dari ruh, dan sebaliknya, ruh tidak
berasal dari badan. Dalam perwujudannya, manusia tidak serba dua,
melainkan jadi hubungan sebab akibat yang keduanya saling mempengaruhi.
d. Aliran Eksistensialisme.
Aliran ini memandang manusia dari segi eksistensinya. Menurut aliran
ini, hakikat manusia merupakan eksistensi atau perwujudan sesungguhnya
dari manusia. intinya, hakikat manusia adalah apa yang menguasai manusia
secara menyeluruh.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa
dalam perspektif filsafat, manusia dinamai berdasarkan fungsi dan
potensinya. Dan manusia juga dipandang dalam bentuk aliran-aliran oleh
para ahli filsafat.
KESIMPULAN
Kajian mengenai manusia
sangat luar biasa sekali uniknya. Sangatlah pantas manusia itu dikatakan
makhluk yang paling mulia. Dilihat dari proses penciptaan sampai kepada
fungsinya, sudah menunjukkan bahwa manusia merupakan makhluk yang
terpilih oleh Allah.
Dalam uraian singkat makalah di atas, terdapat beberapa hal yang perlu digarisbawahi berkaitan tentang manusia, yaitu:
1. Hakikat manusia itu sangat beragam sekali, mulai dari hakikatnya
sebagai makhluk Allah SWT dan hakikatnya sebagai makhluk sosial.
2. Pandangan tentang manusia itu dapat dilihat dari dua perspektif.
a. Perspektif Al-Qur’an.Terdiri dari:
a) Konsep al-Basyr. Dalam konsep ini manusia dipandang sebagai makhluk
yang tidak jauh berbeda dengan makhluk biologis lainnya. (terikat ingin
berkembang biak). Dalam hal ini kita kenal proses dan fase perkembangan
manusia, yaitu: Prenatal (sebelum lahir), proses penciptaan manusia
berawal dari pembuahan (pembuahan sel dengan sperma) di dalam rahim,
pembentukan fisik (QS. 23: 12--14). Kedua, Post natal (sesudah lahir)
proses perkembangan dari bayi, remaja, dewasa dan usia lanjut (QS. 40:
67)
b) Konsep al-Insan. Dalam konsep ini manusia dipandang mempunyai
potensi untuk mengembangkan dirinya. Potensi manusia menurut konsep
al-Insan diarahkan pada upaya mendorong manusia untuk berkreasi dan
berinovasi.
c) Konsep al-Nas. Dalam konsep an-naas pada umumnya dihubungkan dengan fungsi manusia sebagai makhluk sosial.
d) Konsep Bani Adam. Konsep Bani Adam dalam bentuk menyeluruh adalah
pengakuan terhadap spesis manusia yang mengacu kepada penghormatan
kepada nilai-nilai kemanusian.
e) Konsep al-Ins. Manusia dalam
konsep ini adalah kebalikan dari kata jin. Manusia hidup penuh dengan
keteraturan. Hidupnya jelas yang dapat terinderakan.
f) Konsep Abd
Allah. Manusia dalam konsep ini merupakan hamba, yang seyogyanya
merendahkan diri kepada Allah. Yaitu dengan mena’ati segala
aturan-aturan Allah.
g) Konsep Khalifah Allah. Manusia menurut
statusnya sebagai khalifah Allah setidak-tidaknya terdiri dari dua
jalur, yaitu jalur horizontal (hubungan baik sesama makhluk) dan jalur
vertical (mandataris Allah).
b. Perspektif Filsafat
Dalam
perspektif filsafat, konsep manusia menurut Jalaluddin (2003: 32-33)
mencakup ruang lingkup kosmologi (bagian dari alam semester), antologi
(pengabdi Penciptanya), philosophy of mind (potensi), epistemology
(proses pertumbuhan dan perkembangan potensi) dan aksiologi (terikat
nilai-nilai). Selain itu, para ahli filsafat menamai manusia berdasarkan
potensinya, yaitu:
1. Homo Sapiens, artinya makhluk yang mempunyai budi.
2. Animal Rational, artinya binatang yang berpikir.
3. Homo Laquen, artinya makhluk yang pandai menciptakan bahasa dan
menjelmakan pikiran manusia dan perasaan dalam kata-kata yang tersusun.
4. Homo Faber, yaitu makhluk yang terampil, pandai membuat perkakas,
atau disebut juga tool making animal, yaitu binatang yang pandai membuat
alat.
5. Aoon Politicon, yaitu makhluk yang pandai bekerjasama,
bergaul dengan orang lain dan mengorganisasi diri untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya.
6. Homo Economicus, yaitu makhluk yang tunduk pada prinsip-prinsip ekonomi dan bersifat ekonomis.
7. Homo Religius, yaitu makhluk yang beragama.
.
Rabu, 18 Mei 2016
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar